Apakah Ada Cover Mobil 100% Waterproof? Ini Kenapa Embun Pagi Bisa Muncul di Balik Cover yang Rapat

·

Pernah lihat cover mobil yang mengklaim “100% Anti Air” atau “Waterproof Sempurna”? Setiap kali saya melihat klaim yang mirip seperti itu, saya selalu skeptis. Dan kalau kamu juga merasa ragu, kalian sudah datang ke tempat yang benar.

Banyak orang yang akhirnya termakan klaim tersebut demi melindungi mobil dari hujan, tapi realitanya di lapangan sering kali berbeda. Pas penutupnya dibuka di pagi hari, bodi mobil malah basah karena dipenuhi embun. Tetapi apakah hal ini dikarenakan trik marketing atau klaim yang tidak benar (kalau saya lebih keras saya bisa bilang bohong)?

Kabar baiknya: cover mobil tersebut kemungkinan besar tidak bocor sama sekali. Kabar buruknya: fenomena embun ini justru terjadi karena car cover itu berhasil melindungi mobil dari hujan. Mari kita bongkar paradoks ini secara ilmiah menggunakan referensi dari jurnal material science—tentang apa itu sebenarnya standar waterproof, bagaimana proses pembasahan (wetting) benar-benar terjadi, dan mengapa car cover dengan bahan 100% waterproof justru bisa membuat mobilmu basah.

Memahami Hydrostatic Pressure Rating

Dalam dunia tekstil dan ilmu material, kemampuan sebuah kain untuk menahan tekanan air dari luar diukur menggunakan standar yang disebut Hydrostatic Pressure Rating (Tingkat Tekanan Hidrostatis). Dan menggunakan sistem ukur tersebut, kita sebenarnya bisa mengatakan bahwa ada bahan yang bisa dipakai sebagai car cover yang 100% waterproof. Contohnya seperti plastik tebal, PVC, atau karet murni.

Hydrostatic Pressure Rating dapat diukur menggunakan sistem yang sudah distandarisasi [1] dengan meletakkan tabung berisi air di atas permukaan kain. Angka rating (dalam milimeter) menunjukkan seberapa tinggi air yang bisa ditahan sebelum air mulai menetes tembus ke bawah serat kain. Semakin besar angka ratingnya, semakin tahan air kain tersebut.

Secara umum, kita bisa menyebutkan bahwa kain-kain dapat diklasifikasikan berdasarkan ketahanannya terhadap air seperti ini:

  • Water Resistant: 1.500 – 5.000 mm
  • Waterproof: 5.001+ mm

Tetapi beberapa standar seperti EN 343 (standar bahan waterproof untuk guna kerja) memiliki standar berbeda di mana ada 4 kelas [2].

Class 1: 8000 Pa (~816 mm) ketika masih baru
Class 2: 8000 Pa (~816 mm) setelah dilakukan pre-treatment di mana kain sudah dicuci, digosok, dan digulung-gulung.
Class 3: 13.000 Pa (~1326 mm) setelah pre-treatment.
Clss 4: 20.000+ Pa (~2040 mm) setelah pre-treatment.

Penting untuk diketahui bahwa standar EN 343 ini adalah standar legal yang diberlakukan umumnya di Eropa, dan produk yang digunakan di pasaran sekarang (seperti jaket untuk hiking) memiliki rating 5000 mm ke atas.

Proses Wetting (Pembasahan)

Sebelum kita bahas soal embun, kita harus paham dulu bagaimana sebuah kain bisa basah, atau dalam bahasa sainsnya disebut proses “Wetting”.

Menurut analisis dari Oreate AI Material Science [3], wetting sangat bergantung pada contact angle (sudut kontak) antara tetesan air dan permukaan material, sebuah konsep yang dijelaskan lewat “Young’s Equation”. Di artikel ini, (untungnya bagi kalian) kita tidak akan membahas cara menggunakan persamaan tersebut.

Yang kita perlu pahami hanya 2 hal ini:

  • Jika sudut kontak air di atas 90 derajat, air akan membulat sempurna dan menggelinding jatuh. Inilah yang kita sebut “efek daun talas” atau sifat hidrofobik [3].

  • Jika tekanan air terlalu kuat (misalkan hujan badai), sudut kontak ini mengecil. Air akan mulai menyebar perlahan, membasahi serat, dan terjadilah proses wetting [3].

Ketika kita melihat ada air hujan yang tembus dan kita bilang bocor, itu biasanya adalah proses wetting, sama seperti jika kita meneteskan air ke baju kita dan tembus ke kulit.

Di car cover, biasanya ada coating yang membantu meningkatkan sudut kontak di mana air datang sehingga air langsung turun, tetapi coating ini juga bisa menipis sehingga akhirnya bisa terjadi juga proses wetting.

Kenapa Cover Mobil Airtight Itu Justru Nggak Bagus?

Di sinilah letak ironi terbesar dari perlindungan 100% kedap air: Material yang sama sekali tidak bisa ditembus air dari luar, biasanya juga tidak akan bisa dilewati udara bebas dari dalam. Sifat ini disebut airtight (kedap udara).

Kalau kita pakai cover yang airtight, kita akan menemukan embun air di permukaan mobil di pagi hari. Kenapa ini bisa terjadi?

Ketika kita memasang cover (terutama pada pagi atau siang hari), cover yang airtight ini akan memerangkap juga uap air yang ada di udara. Karena cover yang dipakai kedap udara, uap ini tidak akan bisa keluar dari car cover sehingga terperangkap di bawah car cover. Ketika subuh datang, banyak dari uap air ini akan mengembun dan menyebabkan permukaan mobil basah ketika kita buka.

Membiarkan bodi terbungkus embun di balik ruang yang rapat sama saja dengan menciptakan rumah kaca mini yang super lembap. Sebuah perlindungan yang didesain untuk outdoor justru sangat membutuhkan yang namanya pelepasan uap (breathability) [1]. Jika dibiarkan kedap udara terus-menerus, maka beberapa hal berikut bisa terjadi:

  • Tumbuhnya Jamur:
    Kelembapan tinggi dan minim cahaya adalah surga bagi spora jamur. Jika uap merembes ke celah kabin, interior hingga jok mobil bisa ikut berjamur.

  • Kerusakan Cat Mobil:
    Air yang terperangkap berhari-hari pada suhu yang berfluktuasi (naik turun) bisa menyebabkan water spot yang sangat sulit dihilangkan, hingga membuat lapisan cat menjadi kusam.

  • Memicu Karat:
    Kelembapan ekstra yang tidak pernah kering dengan sempurna akan mencari celah baret halus atau logam tak berlapis pada mobil, mempercepat proses oksidasi, yang akan membuat karat.

Kesimpulan

Kesimpulannya di sini adalah: Carilah Keseimbangan, Bukan Sekadar Kedap Sempurna. Mengharapkan pelindung luar ruangan yang 100% kedap dan tertutup rapat seperti kantong plastik sebetulnya menentang hukum fisika perawatan kendaraan yang baik. Alih-alih mencari bahan yang benar-benar memblokir segalanya dari segala arah, para peneliti material menyarankan untuk mencari kain pelindung yang tahan air dengan tekanan hidrostatis yang mumpuni, namun tetap breathable (memiliki sirkulasi udara mikro). Dengan keseimbangan ini, volume air dari langit sanggup terhalau dengan kuat, tapi uap embun dari tanah memiliki jalan keluar untuk menguap seiring hangatnya sinar matahari pagi. Jadi, tenang saja dan jangan panik dulu saat melihat sedikit sisa embun di pagi hari. Selama sirkulasi udara di bawahnya berjalan baik, mobilmu akan mengering sendiri dan tetap terawat pada waktunya!

Referensi

  1. American Association of Textile Chemists and Colorists (AATCC) – Test Methods for Water Resistance: Hydrostatic Pressure Test.
  2. BP-Online. (2026). DIN EN 343: Protective clothing against rain. [Online] Available at: https://www.bp-online.com/en-gb/work-protection/norms/din-en-343/ (Accessed: 25 February 2026)
  3. Yuan, Y., Lee, T.R. (2013). Contact Angle and Wetting Properties. In: Bracco, G., Holst, B. (eds) Surface Science Techniques. Springer Series in Surface Sciences, vol 51. Springer, Berlin, Heidelberg. https://doi.org/10.1007/978-3-642-34243-1_1